Ngaji Jurnalistik Virtual AJI Mataram bersama Shinta Maharani Jurnalis Tempo dan ketua Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marginal, AJI Indonesia berjalan sukses Rabu (04/02/2026) pukul 20.00 sampai 22.00 WITA.
Dipandu Pemred Inside Lombok, Bayu Pratama, diskusi mengalir penuh insight dengan beragam pertanyaan dan pembahasan yang berdaging.
Shinta Maharani, sebagai jurnalis di Media Tempo, mengakui bahwa dukungan ekosistem redaksi menjadi pijakan penting dalam mengeksplorasi isu kelompok minoritas secara mendalam dan berkelanjutan.
"Tradisi dalam redaksi itu memudahkan saya menulis isu keberagaman," ujarnya. Menurutnya, jika lingkungan redaksi tidak mendukung, mungkin tidak akan mungkin untuk mengangkat topik ini secara terus-menerus dengan kedalaman yang dibutuhkan.
Setiap media memiliki kebijakan dan tradisi jurnalistik yang berbeda, sehingga tidak bisa menyamakan Tempo dengan media lain.
Namun, aspek keterbukaan bisa dibangun melalui upaya edukatif—seperti ketika Shinta menjadi mentor untuk membimbing jurnalis maupun mahasiswa dalam menulis isu keberagaman dan kelompok minoritas.
Membangun Kapasitas: Belajar Secara Konsisten
Menulis tentang kelompok minoritas membutuhkan kedalaman pengetahuan yang terus diperbarui. Shinta menjelaskan bahwa hal ini bisa dicapai melalui pembacaan yang luas, perluasan perspektif, dan pengembangan jejaring.
"Kita harus menyerap pengetahuan secara konsisten untuk menghasilkan karya jurnalistik yang punya kedalaman," katanya.
Proses ini juga membawa nilai tersendiri bagi dirinya. "Ketika saya menulis isu kelompok minoritas, saya lebih mengenal sisi kemanusiaan—bahwa kita sedang menceritakan tentang manusia," ujarnya, yang menjadi semangat untuk terus memproduksi karya yang mengaplikasikan prinsip keberagaman dan hak asasi manusia.
Metode Liputan: Hidup Bersama Komunitas
Tidak ada standar baku tentang durasi liputan untuk mendapatkan kedalaman, namun Shinta biasanya menghabiskan 3 hingga 4 hari tinggal bersama komunitas yang diliput. Misalnya, di Sumba ia tinggal 4 hari, sementara untuk kelompok minoritas gender dan seksual di Yogyakarta, ia bahkan menjalin hubungan selama beberapa tahun—bukan hanya datang saat ada penugasan liputan.
Ia juga aktif mengikuti acara komunitas dan turut serta ketika mereka menghadapi masalah, seperti ketika digeruduk atau diserang oleh organisasi tertentu, bahkan terkadang melakukan advokasi.
"Live in di komunitas, baik itu Ahmadiyah atau teman-teman LGBTQ+, pasti akan mendapatkan informasi yang lebih menarik dan kaya perspektif," jelasnya.
Sebagai koresponden dengan waktu yang lebih fleksibel, Shinta bisa bernegosiasi jadwal konsultasi dan mengklaim biaya perjalanan, yang menjadi keunggulan dalam mengakses komunitas di berbagai daerah.
Shinta menekankan pentingnya menghindari pemberitaan diskriminatif atau membawa perspektif oknum, pejabat atau alat negara yang bisa menjauhkan hak kemanusiaan kelompok minoritas.
"Masyarakat sipil di berbagai daerah terkadang menghadapi larangan beribadah dan terbatasnya akses hak dasar yang bertentangan dengan prinsip HAM. Kita mungkin tidak setuju dengan ragam gender dan seksual atau kelompok minoritas agama, tetapi saat menulis upayakan singkirkan bias, gunakan kode etik jurnalistik, pedoman pemberitaan keberagaram, dan kode perilaku sebagai anggota AJI. Jangan lupa juga bahwa pertanggungjawaban atas karya jurnalistik kita kepada publik," katanya.
Menurutnya, pemerintah sebagai perwakilan negara seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan yang bisa menyebabkan kekerasan atau berdampak persekusi serta menguatkan ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas. Setiap orang berhak mendapatkan rasa aman dan hak pelayanan dasar sebagai warga negara, yang dilindungi oleh hukum.
"Saat menulis berita, tanggung jawab kita bukan kepada diri sendiri atau keyakinan pribadi, melainkan kepada publik. Kita tidak boleh menggunakan narasumber yang perspektifnya melanggar hak asasi manusia atau mengarah pada diskriminasi," tegasnya.
Shinta menyadari bahwa mengubah pandangan masyarakat menjadi lebih terbuka tidak bisa terjadi dalam waktu singkat, namun setiap karya jurnalistik yang bertanggung jawab bisa menjadi bagian dari perubahan yang berkelanjutan.