Skip to main content

Jurnalis di Mataram Dilatih Keterampilan Penelusuran Sumber Terbuka dan Penanggulangan Disinformasi

Submitted by AJI Mataram on

Puluhan jurnalis mengikuti Workshop Penelusuran Sumber Terbuka dan Disinformasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama AJI Mataram dengan dukungan Internews dan Uni Eropa. 

Kegiatan ini diikuti jurnalis dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Denpasar. 

Acara berlangsung di hotel Lombok Astoria dari tanggal 25–26 April 2026. Program Indo Pasifik Media Resilience (IPMR) ini bertujuan membekali jurnalis dengan kemampuan menganalisis dan merespons manipulasi informasi yang kian masif di ruang digital.

Workshop dirancang untuk memastikan jurnalis memiliki alat yang tepat untuk mengidentifikasi dan menangani disinformasi, bukan malah menjadi penyebarnya. 

Ketua AJI Mataram, Wahyu Widiyantoro, menekankan bahwa perkembangan media sosial dan platform digital telah membuka akses informasi yang luas. Namun, kemudahan ini di sisi lain menjadi sarana penyebaran manipulasi informasi dapat meruntuhkan kepercayaan publik. 

“Fenomena ini mempengaruhi tingkat kepercayaan publik. Karena itu, jurnalis dituntut memiliki kemampuan analisis kritis serta keterampilan verifikasi informasi yang efektif,” ujar Wahyu. 

Melalui kegiatan ini, peserta dibekali pemahaman dan keterampilan praktis untuk memverifikasi informasi. Wahyu menyoroti tantangan baru yang dihadapi jurnalis saat ini, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten hingga penipuan berbasis relasi emosional atau love scam. 

Ia mengingatkan bahwa ancaman disinformasi seringkali tidak disadari. Tanpa pengetahuan yang cukup, jurnalis berisiko turut menyebarkan narasi yang sesat.

“Sering kali kita merasa tidak akan terdampak. Padahal tanpa disadari, kita bisa saja turut terlibat dalam penyebaran disinformasi yang berasal dari luar negeri,” tegasnya.

Oleh karena itu, Wahyu menegaskan pentingnya disiplin verifikasi informasi sebelum dipublikasikan. 

Pelatihan ini dirancang untuk memastikan wartawan memiliki alat yang tepat untuk mengidentifikasi dan menangani disinformasi, bukan malah menjadi penyebarnya. 

Lebih jauh, Wahyu menyatakan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan  terhadap ancaman informasi. Hal ini dinilai krusial bagi negara demokratis seperti Indonesia. 

Wahyu berharap masyarakat tidak hanya membandingkan berita, tetapi mampu berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan. 

“Pelatihan seperti ini menjadi penting, terutama bagi jurnalis yang menghadapi tantangan baru di era digital, agar tidak salah arah dalam menyajikan fakta,” ujarnya.

Salah satu peserta, Eviera mengatakan, pelatihan ini sangat berguna bagi jurnalis memahami frame dan konteks dalam sebuah berita atau informasi yang beredar di media sosial agar bisa menulis, meliput serta investigasi lebih dalam sesuai kode etik jurnalistik.

“Kita bisa mengetahui lebih dalam upaya-upaya dari pihak yang memanipulasi informasi dan cara menanggulanginya,” kata Eviera.

 

Region
Category