Mataram (AJI Mataram) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mataram menggelar bedah buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” di Sekretariat Komunitas Teman Baca, pada Minggu (14/6/2026).
Kegiatan bedah buku terlaksana berkat kolaborasi dengan Komunitas Teman Baca dan Solidaritas Perempuan (SP) Mataram.
Buku kumpulan reportase Konde.co ini diterbitkan Marjin Kiri dan didukung Trend Asia.
Ada tujuh liputan mendalam yang menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) dari Sumatera, NTB hingga NTT. Liputan investigasi mengungkap aktor elite oligarki dalam mega proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pertambangan nikel di Sulawesi serta krisis iklim banjir rob yang mengancam pesisir utara Jawa Tengah di Demak.
Hadir sebagai pembicara, Susi Gustiana, Sekretaris AJI Mataram. Kemudian, Siti Nurhidayati, Ketua SP Mataram, dan Pendiri Komunitas Teman Baca, Dedy Ahmad Hermansyah.
Masing-masing dari mereka membedah buku setebal 191 halaman ini dari sudut pandang berbeda.
Susi Gustiana sekaligus Kontributor Kompas.com, menjelaskan bahwa tujuh reportase dalam buku menyoroti dampak pembangunan melalui kacamata perempuan akar rumput.
Dalam konteks NTB, Susi menyoroti pembangunan bendungan Meninting yang melahap tanah sebagai sumber kehidupan masyarakat setempat.
Karena itu ia mengajak, jurnalis untuk meliput kondisi masyarakat sekitar Bendungan Meninting sebagai upaya untuk memberi ruang bagi mereka yang seringkali tak diberi ruang bicara di media arus utama.
“Kami dari AJI Mataram maupun AJI Indonesia terus mendorong melalui liputan-liputan investigasi dan juga project pelatihan agar teman-teman ini mendapatkan dukungan dana beasiswa untuk peliputan mendalam di proyek-proyek ekstraktif dan PSN,” ujar Sekretaris AJI Mataram ini.
Mengutip pernyataan Pemred Konde.co, Luviana Ariyanti, Susi juga menegaskan bahwa jurnalis harus berpihak kepada publik terutama perempuan dan kelompok marginal, alih-alih bersifat netral.
“Jurnalisme tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi jurnalisme juga tentang membangun hubungan, mendengarkan pengalaman hidup perempuan, dan membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak didengar di media mainstream (arus utama),” tegasnya.
Sementara itu, Ketua SP Mataram, Siti Nurhidayati menjelaskan, buku “Pembangunan untuk Siapa?” bercerita tentang dampak destruktif pembangunan sekaligus melihat bagaimana perjuangan perempuan melawannya.
“Dalam buku ini kita menemukan berbagai cerita tentang bagaimana pembangunan berdampak pada masyarakat sekitar, yang awalnya dulu banyak pepohonan.
Ketika lahan perkebunan dan pertanian mereka dirampas oleh negara. Pembangunan tidak serta merta memberikan kehidupan lebih baik kepada mereka,” katanya.
Ida akrab disapa, aktif mendampingi para perempuan yang terdampak pembangunan Bendungan Meninting.
Dari pengalaman tersebut, Ida menilai, pembangunan tak pernah netral kepada perempuan. Perempuan, kata dia, selalu mendapat beban ganda ketika perubahan iklim dampak pembangunan mulai dirasakan.
“Ketika lingkungan berubah, air bersih sudah menjadi kotor, (dampaknya) dirasakan oleh semua orang, namun yang paling berdampak adalah perempuan, anak, disabilitas,” jelasnya.
Menutup pemaparannya, Ida mengutip potongan reportase dalam buku ini yang mempertanyakan siapa pihak yang paling merasakan manfaat dari pembangunan.
“Jika perempuan kehilangan akses air bersih, kehilangan sumber penghidupan, kehilangan ruang hidup, kehilangan waktu istirahat, dan kehilangan rasa aman demi sebuah proyek yang disebut energi bersih.
Maka kita perlu bertanya apakah ini benar-benar transisi energi yang adil atau jangan-jangan kita sedang menyaksikan bentuk baru pembangunan yang mengorbankan kelompok yang sama, hanya dengan nama yang berbeda,” ujar Ida.
Selanjutnya, Dedy selaku pendiri Komunitas Teman Baca, selain membedah buku dengan kritis, ia juga mendedah literatur serupa yang membawa semangat ekologis. Salah satunya yaitu, buku Ekofeminisme dan Terra Viva karya Vandana Shiva.
Bukti semangat itu menurutnya dapat dilihat dari sejarah gerakan perlawan perempuan yang menolak proyek korporasi di India pada 1970-an. Gerakan tersebut bernama Chipko.
“Kaitannya dengan buku ini (Pembangunan untuk Siapa?), tujuh tulisan di sini, semua menyoroti tentang dampak dari program strategis nasional terhadap perempuan,” ujarnya.
Dedy juga menyoroti bagaimana kondisi pembangunan saat ini dari kacamata Vandana Shiva yang melihat adanya upaya pemisahan antara ekonomi dan ekologi dalam pembangunan.
Secara istilah, ekologi sebenarnya ilmu tentang rumah dan lingkungan. Sementara ekonomi, adalah ilmu tentang bagaimana pengelolaannya.
Sebagai dua disiplin ilmu yang berkaitan, ekonomi menurut Dedy seharusnya tetap mematuhi landasan etik dan moralnya pada ekologi.
Namun, sejak kedatangan modernisme dengan logika efisiensinya, membuat kedua disiplin ilmu tersebut kini mulai saling memerangi.
“Coba lihat, proyek-proyek yang ada di sini semuanya kepentingan ekonomi semata, ekologinya (dilupakan). Padahal itu satu kesatuan,” terangnya.
Pada akhirnya, ketiga narasumber memaparkan materinya dengan begitu jeli dan kritis. Diskusi semakin menarik seturut peserta bedah buku yang juga menyampaikan pendapatnya tentang kondisi dan situasi kelompok marginal dalam agenda pembangunan.
Melalui bedah buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” dapat dilihat bahwa agenda pembangunan yang selalu dibingkai dengan narasi kesejahteraan dan kemajuan kerap berbanding terbalik dari kenyataan di lapangan.
Berkaca dari perjuangan Mama Mince yang melawan pembangunan Waduk Mbay Lambo di NTT juga Ibu Ismiyati di Meninting, NTB, kita bisa menarik kesimpulan bahwa, di atas gegap gempita pembangunan dengan janji kesejahteraan ada mereka para perempuan yang menjadi korban.